Cerita Masa Lalu
Dulu gue adalah invisible , mungkin sampai sekarang. Nobody knows me but I know everybody, kasihan ya? Lagian dulu siapa yang mau berkawan dengan anak kerempeng begeng, gigi gede,k epala gede, ingusan,never-ending meler, garing, pendiam, culun, tak bisa berolahraga, tak pandai bermain gundu, looser kalo adu gasingan, meski lumayan jago sih klo mainan karet dan paling kenceng larinya kalo ngejar layangan.
Gue kecil juga tentang freak, kerjanya baca, setiap ke rumah orang selalu bertanya ada bacaan apa, mulai dari baca Ensiklopedi, baca Koran, baca Iklan, baca Smurf, Steven Sterk, Johan Pirlout, si Bob Napi Badung sampe Alferd Hitchcock, Enid Blyton, baca Sejarah Eropa, baca apa saja : lumayan freak untuk ukuran anak SD yang seharusnya sehat bugar beraktifitas di luar daripada meringkuk di kamar tak punya teman asik sendiri baca.
Tapi sayangnya justru ketika masa-masa dimana membutuhkan kemampuan baca yang kuat gue justru anti sama text book, bisa mendadak mual-mual lihat text book. Membeli text book hanya sebatas supaya kamar gue tampak seperti kamar Mahasiswa Teknik sejati. Dengan adanya buku tebal-tebal berwarna-warni berderet di rak lumayan bikin Mak gue percaya kalau gue benar-benar Kuliah, bukan main game (kadang buku-buku tebal membosankan itu suka gue injek-injek, tekuk-tekuk biar kucel pertanda sering dibaca).
Juga tentang wanita. Pertama kali ngobrol sama wanita adalah kelas 1 SMA. Nila Dewi. Dan dia begitu kagetnya pas tau gue ga pernah sekalipun berbincang-bincang dengan wanita sebelumnya yang artinya itu sudah 15 tahun. Sejak itu dia rajin nelepon, ngajarin gue cara ngobrol sama cewek, apa-apa aja yang bisa nyelekit, nyolot,bahwa ketika berbicara sama cewek dan cowok itu sedkit banyak harus dibedakan. Karena cewek itu makhluk yang suka gak penting. Pertama kali naksir cewek juga kelas 3 SMA. Naksir mampus. Tapi gak bisa ngedeketin, sama sekali ga tau cara yang paling masuk akal untuk memulai “hai, gue Arya. Anak baru ya? 1.6 ? gimana pelajaran Fisika semester ini ? sesusah Kimia gak ? Dan itu cukup sukses membuat cewek itu selalu belok menghindar, parno ketakutan semacam melihat orang sakit setiap lihat gue dari kejauhan. Ketika gagal pada percobaan pertama, dengan dukungan penasihat spiritual, gue mencoba melalui telepon. Tapi sama amatirnya dan lebih bodoh, karena gue tidak pernah menelepon wanita seumur-umur. Karena itu gue selalu bikin semacam perkiraan dialog yang akan terjadi nantinya, mirip naskah drama di buku pelajaran Bahasa Indonesia itu. Perkiraan dialog gue dan dia. Dengan kata lain nelpon make contekan.
Jadi no wonder, gue tetap perjaka tong-tong selama masa sekolah. Masa dimana prom night adalah tentang adu canggih-canggihan pasangan andalan. Masa dimana serunya berburu-buru bunga-bunga adik kelas. Masa dimana malam minggu adalah waktu mengunjungi pacar bukannya kumpul lagi - kumpul lagi sama sesama batangan di posko ato gak lapangan basket (kita benar-benar suka ga penting basket buta malem-malem gelap tanpa lampu saking desperatenya). Masa dimana Valentine adalah hari yang ditunggu-tunggu selain Lebaran bukannya malah naik gunung menghibur diri atau caving sesama batangan. Ya, masa dulu gue adalah tentang invisible, no body knows me but I do know everybody